Seketika lahir satu rasa
Tak biasa
Menelanjangi lidah, memukul darah
Lantunkan nada
Tak biasa
Menjaring selaksa peristiwa, tak terdengar telinga
Ketakserasian pandang akan dunia
Didihkan emosi, memuncaki dahi
Pahatan luka teteskan tawa
Tak biasa
Memabukkan mulut yang kembali berceloteh
Bergelut dengan sebaris bibir yang terus mengoceh
Menuangkan bola mata panas
Bercucuran geram
Menetes maaf menyerang saraf
Terluka jiwa
Sudah biasa
Menjawab sejurus kata yang menikam
Yang tak sempat tergambar lewat tangisan
Ganti Sesungging senyuman
Gunting goresan perih, dibalik sedih merintih
Sudah biasa
Terluka
30 Desember 2004
Teras BEM FKIP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar