Telah menjadi keturunan inflasi
Bila tiba-tiba duit baru itu menjadi debu ditengah krisis ekonomi
Tak lagi mampu membungkus cabe rawit dan seledri
Yang makin menggigit pedas dompet anak negeri
Tak sanggup lagi mengikat bawang merah yang merangkak
Mendekati klimaks
Duit baru keluaran birokrasi
Hanya mampu membeli terasi dan peniti
Tak melihat ibu rela mati mengantri
Demi se-liter minyak tanah yang tak lagi disubsidi
Menawar harga yang tak lagi bisa dikompromi
Tingi dan semakin tinggi
Duit baru edisi cetakan masa kini
Memiliki rasa humor yang tinggi
Menggelitik perut tiap anak negeri
Lebih tenar dari bintang AFI yang tampil di televisi
Rasa manis tebu giling dan gula jawa
Tak lagi mampu dijilat tiap keluarga
Hanya untuk orang berada dan para pengusaha
Beras impor bertumpuk di gudang
Tanpa ada distribusi bagi rakyat yang malang
Petani memilih beralih memakai pupuk kandang
Oh…inflasi
Engkau datang saat lagi resesi
Jaman ini telah menelan mimpi-mimpi
Mengorbankan nyawa penduduk negeri
Yang tak mampu membeli sebungkus nasi
14 Maret 2005
Metro Pagi, di atas puncak guci
Tidak ada komentar:
Posting Komentar