My Picture

My Picture
Sillent

Jumat, 05 Februari 2010

BULAN MADU DI ASPAL JAKARTA

Mata elit tercengang
Menaruh bola dunia pijakkannya ditendang
Kursi kekuasaan kusut dan menyusut
Ditantang ribuan generasi baru sembilan delapan
Mengguncang megahnya istana kepresidenan
Meruntuhkan rezim pengklaim kekuasaan
Mengiklankan suburnya perekonomian
Dilempar legitimasi batuan
Radikalisasi kampus menjalar, membakar
Menjelajahi jalur diluar dugaan
Mengejutkan memang
Namun itulah kenyataan
Sebuah catatan sejarah reformasi
Atas penghianatan dan pendudukan NKRI
Tumbalkan beberapa badan anak negeri
Anak Tiri TRI SAKTI dan anak Semanggi
Terkapar membela reformasi
Diterjang timah panas hadiah petugas
Mereka berteriak lantang
Menantang
“Kami adalah manusia berperikemanusiaan, bukan seperti kalian manusia gadungan!!
Para pasukan berseragam yang anggap kami layaknya binatang”
“Kalian tawari kami pentungan, Kami kalian tendang ditengah lapangan rakyat yang kelaparan”
“Bahkan kalian todong kami dengan senapan yang kalian beli dari keringat dan cucuran orang tua kami yang rela berjuang”
“Mengolah bumi pertiwi mati-matian hanya untuk diserahkan sebagai setoran bulanan kepada kalian dan kembali pada mereka dalam bungkusan kain kafan”
“Kami siap menjadi angin kencang menerjang barisan penghadang”

Kelaliman ditumbangkan
Membela kemanusiaan
Membuang warna-warni defile keemasan
Dari tiap-tiap almamater kebanggaan
Menyatukan barisan dalam pasukan perubahan penegak konstitusi
Menegakkan supremasi keadilan ibu pertiwi
Aspirasi rakyat telah digaungkan dan digantungkan dipundak kalian
Generasi Sembilan Delapan
Masa depan negeri ini berada dalam genggaman tangan kalian
Wahai para pejuang jalanan


21 Mei 2005
Merefleksi Reformasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar