Berderet barisan kepingan awan
Penguasa cahaya merangkak malu-malu
Membakar kepala
Bualan pinta terlontar menghujam
Menjerit ditangis pagi
Perut mengaum menanggung getir
Merambah petak belikat yang mulai keropos
Pendar tawa pinggiran ranjang
Tautkan kabar pada penguasa malam
Menguras keringat dan air mata
Menguras sumur waktu yang makin menganga
Kerontang…
Mengais setetes demi setetes
Menganak sungai di sela rembulan
Tertuang ribuan lafal
Menadah dalam cawan-cawan harap
Tersusun mentari disebelah hati
Menyusuri separuh dongengan bumi
Menginjak jengah tubuh fana
Dengan belaian keras lisan memaksa
Genggam dunia diikat kepala
Melewati wangi tiupan kencang kelopak
Tak Ingin tersisa
Tak ingin ada
Kepingan hidup terus memaksa bercinta
Mengecup kebuasan kembang serupa
Menjamah duri keabadian
Merancu segala pinta membawahi lupa
Menampik kebenaran tak henti bercita-cita
Memendam diri dari kepedihan tubuh fana
Mengkilat dan menjilat
Tak pernah paksa dunia menggenggam dusta
Hanya memberi cerita tiada henti
Kengerian, dan kebahagiaan meleleh berguguran
Terlempar melayang silih berganti
Memberi kebusukan dan wewangian
Merampas sekuntum kehidupan
15 Januari 2010
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar