My Picture

My Picture
Sillent

Minggu, 26 September 2010

Janji Dua Sejoli

Berdendang Lagu Penghulu Hati
Menari Gemulai Lekuk Raja dan Ratu Sehari
Mengurai Senyum Indah Di Hamparan Permadani
Mengulum Ibadah Dalam Janji Suci

Berhias Gaun Putih Mewangi
DiBalut Bunga-bunga Surgawi

Berikrar Sekali Untuk Sehidup Semati
Jelajahi Sejengkal Waktu Duniawi
Arungi Hati Dua Sejoli

Memagari Setiap Diri Dengan Doa Walimatul 'Ursy
Mereguk Restu Illahi Rabbi


Selasa, 31 Agustus 2010

KEHORMATAN

Kehormatan Yang Layu
Hanya Mampu Yang Layu
Kehormatan Yang Bisu
Hanya Membisu

Menegakkan Kehormatan
Di Pelataran Angin
Terseok Bertahan
Terseret, Melawan...

Menjaga Kehormatan
Di Hadapan Senyuman Badai
Terlempar Terkapar
Berlumpur
Bertempur, Hancur...

Merangkai Kehormatan
Berikat Pita Kematian
Terpendam Dalam Diam
Tenggelam, Bungkam...

Menanti Kehormatan
Berdiri Menghadang
DiTemani Kesetiaan
Menjelang Harapan
Terbentang...

Minggu, 01 Agustus 2010

HAMPA

Dunia Menjadi Belantara
Mengarak Jelaga Dalam Kegersangan Jiwa
Mengusung Lara Di Tengah Fatamorgana

Dunia Menjadi Berwarna
Menggandeng Jingga Bersama Tawa
Melukiskan Ceria Di Atas Hamparan Senyum Merona

Dunia Tak Bermakna
Menjejalkan Kesal Pada Muka
Mengumpat Kata Dalam Padatnya Asa

Dunia Diam Tanpa Makna
Dunia Tertawa Bahagia
Dunia Mati Bersama Punahnya Cinta

Sabtu, 15 Mei 2010

Gerah

Gerah...
Menjelma di setiap getir keringat
Menguap menaiki awan
Melelehkan semangat
Menguras derasnya angan

Gerah...
Menyelimuti sejengkal asa
Menyenandungkan lagu rindu pada bumi
Khayalkan setitik harap
Getir...
Rasa keringat di sekujur tubuh renta
menjelma dalam setiap doa
mengharap dan berharap

Gerah...
Semakin melantunkan tembang sengsara
Di setiap titik angin
Mati di ujung dingin
Gerah...
Masih mengayun di barisan
Merusak angan
Memecahkan angin
Kuburkan ingin

Sabtu, 13 Maret 2010

SEPERTI KEKASIHKU

Engkau Seperti Kekasihku Yang Dulu
Sungguh Hadirmu Menyejukkan Risau Jiwaku
Begitu Lekatnya Perasaanku Ini Padamu
Hingga Anganku Ku Sandarkan Padamu

Memang Gerakmu
Memang Langkahmu
Mengingatkan Aku Pada Dirinya
Yang Telah Berlalu
Ingin Ku Menyangkal
Ingin Ku Membantah
Betapa Pesona Dirimu Mengikat Erat Jiwaku

Mungkin Terbuai
Mungkin Aku Terlena
Ada Keinginan Yang Tak Tentu Arah
Engkau Tercipta Bukan Untuk Bersama
Biar Ku Nikmati Kerinduan Ini

Memang Langkahmu
Memang Gerakmu
Mengingatkan Aku Pada Dirinya
Yang Telah Berlalu
Ingin Ku Menyangkal
Ingin Ku Membantah
Betapa Pesona Dirimu Mengikat Erat Jiwaku

Maafkan Aku
Yang Selalu Teringat Akan Dirinya
Menggugah Segala Yang Ada Dalam Anganku
Sedapatnya Aku Menepis Keinginan Itu
Ku Harap Engkau Dapat Memaafkanku

Apa Yang Terpancar Dari Dalam Hati
Tak Dapat Aku Bantah
Tak Mampu Ku Singkirkan
Sesungguhnya Aku Sangat Ingin Melupakan
Ingin Ku Melupakan
Ingin Ku Melupakan

Engkau Seperti Kekasihku Yang Dulu
Sungguh Hadirmu Mengejutkan Risau Jiwaku

Rabu, 10 Maret 2010

WANGI NERAKA

Sekelumit Getir Mendekap Jelita
Mendesir Di Tumpukan Jasad Tak Berupa
Menyerebak Anyir Terseret Arus Niagara
Menghujam...
Mencipta Pelangi Dalam Percik dan Gemericik Laknat
Tak Betah Menunggu Malaikat Pencabut Nikmat
Melayang-layang Di Tengah Muara
Bermain-main Nyawa
Riak Gelombang Mengantar Doa
Menyeberangi Surga
Mengetuk Pintu Neraka
Hadirkan Sebongkah Selimut Raga
Yang Akan Tersiksa
Memburu Nafas Nasfu Yang Membiru
Terengah Di Balik Kelambu
Mengeluh Syahdu...
Mendesah Bidadari Mengayunkan Belati
Mencabik Cinta Suci Berbingkai Birahi
Tak Henti...
Hingga Luka Hati Terobati
Panas Dosa Dalam Cawan Asmara
Tak Mampu Letih Menindih
Tak Gentar Api Menyambar
Sesumbar...
Tak Berampun
Terus Mengayun...

GUNDAH

Gerah
Menjamah
Tonggak Galah
Menengadah
Gundah
Marah
Merah
Darah
Aku....
Muntah
Tak Ramah
Ingin Ku Bantah
Tapi Aku....
Kalah
Di Ujung Salah
Di Temani Sajadah

GEMERETAK KALBU

Kembali Aku Menemukanmu...
Kembali Aku Kehilanganmu...
Deras Rinai Air Mata Menyeruak
Menginjak..
Terisak..

Kembali Aku Menemukanmu..
Tertawa Di Ujung Nirwana

Kembali Aku Kehilanganmu..
Terbalut Kabut Sutra Biru Ungu
Di Balik Kelambu

Habiskan Kepekaan Mata
Keringkan Baris Alis Jiwa
MengirisAsa

Melantangkan Sejuntai Doa
Inginkan Engkau Di Surga
Berbaur bersama Bidadari
Yang Aku Cinta


Disana...
Aku Kembali Akan Menemukanmu...
Di Sini..
Aku Kehilanganmu...

Jumat, 05 Februari 2010

Jengah...
DiAliri Cerita dan Luka parah
Bosan...
DiTemani Malam dan Hujan
Rindu....
Digoda dan Dirayu Masa Lalu
Pusing....
Digelayuti nyeri tujuh keliling
Lelah....
Dikeroyok pegal tak bertuah
Kecewa....
Diiringi derita

Aku...
Jengah, Bosan, rindu, Pusing, Lelah, dan Kecewa


Jumat, 5 Februari 2010
Eryck Home

MEMBATU DALAM SENADAMU

Ku rela persembahkan hati kecilku tak bicara
Dalam keterasingan nyawa mengembara di keharibaan jiwa
Antara remuknya desah napas menggeragap di ujung bintang
Menuai satu balutan melodi rindu yang kian merayu sahdu
Kegetiran meraba dinding
Di sapu angin
Menampar sisi ukiran janji terpagut wangimu
Sejntik kata tercantap lidah kelu
Terbangkan waktu lintasi awan biru
Ujung langit menukik salami bisu samuderamu
Menjelaga di sisi hati yang lain
Aku di sini menghampa
Bersama matinya bumi yang ku cinta
Dekapi bunga yang menghambur dalam pelukan
Makin membatu dibekukan malam
Ragu ucap rindu terselimut dendam
Menghampar di langit kelam
Dingin ku rasa semakin menyentuh kelopak nyawa
Hambar terasa meraja si seluruh kata
Sesak bayang wajahmu menodai tiap jengkal asa
Menanti rajutan hati satukan kepingan raga
Nelangasa membatu sambut seuntai sapa
Aku masih menghampa
Di sela kelahiran mentari
Aku masih terpekur di sisi hati


2002
Senada Broadcasting

MENDIANG TRADISI

Pintu-pintu tua terbuka hari ini
Menjauhkan diri pada kebinasaan
Penuh coreng moreng olok
Ditendang caci maki
Gantung perut kemauan
Tak berharga tuk didengar
Dari negeri yang merontokkan tulang
Hormati mereka yang diciumi kakinya
Binasakan nafas kelegaan
Mencinta pohon baru
Kokohkan tunas muda mereda
Ditanam di atas gurun perubahan
Yang tinggal pekik kesadaran
Pada ilmu kekuasaan


22 Februari 2005
Teriakan pembaharu, LDK Guci

SAPAAN ALAM

Besalaman dengan riak dan jeram
Tinggi menjulang
Membentang, membelah dan bentengi perbukitan
Suguhi bunga vila yang mewangi
Di tepian kali, bersembunyi
Melewati terik hari
Melintasi awan-gemawan yang bergandengan
Terbangkan bunga kapas
Di atas gejolak ombak pegunungan
Pantulan cermin putih kelam
Hadirkan warna keemasan
Mengukir jejak di atas tubuh hitam legam
Dengan polos bergemuruh
Sampaikan salam larutkan perasaan luruh
Lewat buih yang berjingkat
Berkeringat
Bersimpuh
Selami aroma perdu
Berkecamuk
Tampari tiap wajah dipesisir kali
Menyentuh bibir embun yang tersenyum malu-malu


21 Februaru 2005
LDK Guci, welcome

WANGI MENTARI

Warna pagi mencipta tarian waktu
Menggugurkan suara langit
Dalam kicau di pucuk cemara
Alirkan embun melintasi pipi dedaunan
Menjauhi bayang ranting tertinggi
Awan gemawan tampak malas melintasi
Jajaran arak-arakan pinus yang mulai tampak bersih
Di punggung-punggung bukit
Sisakan cakar yang masih mencengkeram bumi
Menjauhkan selimut mata air
Menuruni sawah
Kau terbangun, mandi, dan lekas berdandan
Saat itu kita pikirkan bersama
Makna bunga yang melamun di pelataran vila
Lusuh tertunduk malu menghampiri panggilan ibu pertiwi
Menerima hadiah lagu elegi pagi
Mendayu dari sebelah kali
Bekukan nyali menyeret hati ke hilir
Ikuti jejak teduh dibalik tebing
Tersembunyi
Menunggu Mentari mencium kening


21 Februari 2005
LDK I Guci, Janoko

BENDERA MERAH JAMBU

Sore terselimuti coklat stroberi
Enggan beranjak pergi tuk sambut nyanyian para peri
Segala yang mungkin diberi
Layaknya mentari memeluk bumi
Panggilan sayup kemesraan cinta
Menerawang lantang seisi cakrawala di dalam dada
Meenggema dimulut-mulut manusia
Melumeri tiap sisi jiwa
Dalam keriuhan panggilan pujangga
Kasih tertaut
Tak mungkin menolak
Cinta tertambat
Tak ingin mengelak
Sanjunag pada bulan baru
Yang mulai ranum masak
Berkehendak dipetik cumbuinya
Dilelehkan didepan bahagia
Diregang pelukan boneka
Setiap manusia yang mengatakan tidak tahu
Dan tidak mau tahu akan tercampakkan dipalung kalbu
Adalah patut merasa
Jika bulan merah jambu memang ada
Lahir dari hasil cinta anak manusia
Sejenak tutupi warna fatamorgana
Menundukan luka karena kemolekan juwita


14 Februari 2004
Perayaan upacara manusia lemah, valentine

NYUNGSEP

Burung besi si singa terbang
Terpeleset di atas tanah beraspal
Kakinya ringsek hingga sekujur badan
Bulu-bulu pun berserakan di sekitar pekuburan
Raungan sirine ambulan
Berdatangan
Menyeruak diantara sepinya barisan kamboja
Mengusung air mata sanak saudara
Di balik layar kaca
Mengantar bisu tiap tubuh-tubuh beku
Di atas tandu evakuasi
Ditemani air langir yang menggigit kaki

Burung besi si singa terbang
Tersungkur mengenaskan
Meninggalkan duka mendalam
Diantara selimut malam
Ditemani cerita penunggu makam


1 Desember 2004
Lion Air on the ground, Solo-Adi Sumarmo

TAHUN SOLIDARITAS NEGERI

Melanglang dihari baru
Memimpin suara lantang menyeru, maju
Tuk kobarkan kebijaksanaan
Akhiri perjalanan panjang
Diselipi doa pengharapan dalam perenungan
Meski terbungkus dalam kemeriahan
Namun tak surutkan suasana perayaan kemanusiaan
Jauh dari kesan pesta pora dan suka cita
Semua tertunduk menghimpun dana
Sebuah gelombang terapi hadir
Tanpa disadari semua telah lahir
Tumbuhkan kembali kesadaran diri
Sebagai sosok manusia berlisensi
Berparty-sipasi
Menyatukan ketergerakan ringankan beban
Surutkan nadi
Di bumi tragedi


1 Januari 2005
Donasi NAD, sambil pulang kampoeng

TRAGEDI ANAK KOS-AN “GARA-GARA SUBSIDI”

Kepalaku makin pening
Mendengar harga BBM makin melengking
Pikiranku bertambah kacau
Bila harga supermi tak lagi terjangkau
Badanku tambah tak terurus
Kalau harga sabun mandi melebihi nilai kurs
Bau keringat makin lekat tercium
Gara-gara tak mampu lagi membeli parfum
Andai BBM tak lagi disubsidi
Akankah mampu terbeli semua kebutuhan sehari-hari
Bahkan semua terasa tak terjangkau lagi
Berharap itu hanya mimpi
Tapi…
Apa yang sebenarnya terjadi?
Aku tak tahu lagi
Harga BBM boleh saja naik empat puluh persen
Asalkan buat mereka yang naik Beby Bend
Biar anak kos-an bisa tetap rasakan murahnya pendidikan
Serta nikmatnya layanan kesehatan
Bukannya aku hanya mencari gratisan
Hanya saja aku inginkan keadilan
Agar orang melarat juga bisa menikmati fasilitas para konglomerat
Jangan malah aku dibilang orang tak mau usaha
Karena hanya mencari belaskasihan semata
Bukan…
Anak kos-an juga manusia
Aku belajar jadi rakyat jelata
Karena tiap bulan jatah pun masih disubsidi orang tua
Aku belajar untuk bisa mandiri
Agar kelak bisa membangun negeri ini
Tanpa harus merampok uang setoran masyarakat
Yang kalian namakan dengan bahasa pajak


6 Desember 2004
Fokus INDOSIAR, Prediksi BBM naik lagi Januari 2005

GENERASI MESIN

Kita menjadi robot gaya hidup baru
Serba bisa menekan tombol nama peradaban
Tinggal menekan perubahan sudah didapatkan
Inginkan rekonstruksi peristiwa
Semua tinggal tekan
Dengan uang atau kekerasan
Sekonyong-konyong jiwa kotor pun disulap jadi air surga
Menyegarkan dan menyejukkan jiwa
Cukup dengan akal busuk beraut malaikat mabuk
Melilitkan tembaga di hati penguasa negeri
Pudarkan akal sehat lunturkan nurani
Jelmaan manusia tak berperasaan
Goyahkan peraturan muluskan jalan
Berteduh dibalik nama keadilan
Demi langgengnya kekuasaan dan menumpuk kekayaan
Semua mudah karena tinggal tekan
Banyak jalan hilangkan kebenaran
Semua tinggal tekan
Tak perlu pikirkan berapa banyak korban
Bisa membuat hati tersenyum sudah cukup meyenangkan
Acuhkan semua nilai kemanusiaan
Tanpa harus pikirkan keseimbangan alam
Semua robot yang bisa diatur
Cukup dengan uang, kekuasaan, dan jika perlu kekerasan
Jawaban bukan lagi barang mewah, sekarang mudah
Tinggal tekan
Inilah fakta kemajuan jaman
Generasi tanpa perenungan
Tak berperasaan
Semua hanya janji
Tak harus sampai dititik realisasi
Tak perlu diantarkan hingga ujung aksi
Semua bisa berjalan sendiri
Mulus, tanpa cacat disana-sini
Cukup dengan menghilangkan hati
Semua bisa dimiliki


16 Januari 2010
Home

TERINJAK KATA

Seketika lahir satu rasa
Tak biasa
Menelanjangi lidah, memukul darah
Lantunkan nada
Tak biasa
Menjaring selaksa peristiwa, tak terdengar telinga
Ketakserasian pandang akan dunia
Didihkan emosi, memuncaki dahi
Pahatan luka teteskan tawa
Tak biasa
Memabukkan mulut yang kembali berceloteh
Bergelut dengan sebaris bibir yang terus mengoceh
Menuangkan bola mata panas
Bercucuran geram
Menetes maaf menyerang saraf
Terluka jiwa
Sudah biasa
Menjawab sejurus kata yang menikam
Yang tak sempat tergambar lewat tangisan
Ganti Sesungging senyuman
Gunting goresan perih, dibalik sedih merintih
Sudah biasa
Terluka


30 Desember 2004
Teras BEM FKIP

SANDAL JEPIT

Dulu hitam sekarang kuning
Sepasang sandal jepit
Hilang di pelataran masjid
Ditinggal solat tak sampai seper-empat
Coba mencari sekelumit simpulan
Akan adanya rasa ketertarikan
Sepasang sandal jepit
Dulu hitam sekarang kuning
Menuduh kesalahan pada penempatan
Penuhi rasa sesal mendalam
Terlipat dalam umpatan ketidakadilan
Sepasang sandal jepit
Dulu hitam sekarang kuning
Nama kehilangan dilantunkan
Relakan hitam pergi sendiri
Lindungi kuning yang sekarang dimiliki

23 Desember 2004
Masjid UPS, Sandal Karnoto Ijolan

KEMBANG SETAMAN

Tegak berdiri kelopak bunga teratai
Melayang pandang
Saksi nyata perginya kedukaan
Rangkai seikat air mata
Kumpulkan sedikit kembang
Kembang setaman
Semarakkan tangis membius tawa
Sebaris doa menyertai bunga
Menaburi liang dengan kembang
Kembang setaman
Mengubur serambi mekkah
Yang sedang menengadah


30 Desember 2005
Pasar Pagi, Ngolet Dana Bareng Teman Racana

GESERAN GETAR

Temani deburan gemuruh
Ombak-ombak berkejaran
Berloncat-loncatan
Menggandeng manusia-manusia
Membalas dendam
Temui jalanan belanjakan nyawa
Penuh sesak oleh sampah jasad tak bernama
Semua mereda
Menangkap roh dibalik tembok baja
Mengharu, membisu, kaku
Geseran panjang retakan lautan
Getarkan ribuan kematian
Mengenalkan kekuasaaan
Tuhan

26 Desember 2005
Indonesia menangis, Tsunami NAD

GERAK LAYU

Terseret kaki hitam dibalut kain kafan
Tarian kepalsuan penuh warna abu-abu
Dipaksa cerewet merebut sekat laku
Merebahkan surga dihamparan dada
Membendung hidung sumbat wewangian
Merebak keinginan memilih jasad
Meliuk-liuk, meraba-raba
Kelam menenggelamkan pancaran sinar
Temani bulan secuil
Menggantung di ubun-ubun
Menoleh ke arah kesepian
Menyusuri jejak kelelahan gelanggang jiwa
Menarikan kepiluan asmara
Menghampar di tengah rasa
Meliuk-liuk, meraba-raba
Mengiringi deburan porak-poranda
Menggandeng retakan seketika
Lebur dalam kehancuran
Tak tertahan


15 Januari 2010
Home

TANGAN LIAR

Budi hitam menggonggong dikefasihan kata
Menampik rasa pada penggalan raga
Tersisih jarak beribu dari yang bersuara
Lidah bisu tak bicara akan raga nestapa
Satukan asa gegap gempita
Pikir yang gulita

Liar menjamah ketiadaan harta
Haus akan jemari manis wanita
Mendera suara perebutan tahta

Menanti kehadiran dosa
Membuka pintu neraka
Sisihkan Tuhan
Anggap telah tiada

Seketika nafas mereda
Merasa diri tak berharga
Tersengat nafsu dunia


2 April 2005
Lorong gelap manusia putih

TUGU

Terkoyak diri tenggelam
Terkoyak hati keangkuhan
Ternoda kesombongan
Datang kekecewaan diluar kendali
Hantarkan kekuatan
Tercukil jauh dari kesempurnaan
Tambatkan penyakit jiwa
Terpana pandangan
Jatuhkan mahluk lemah berisi tanah
Meminum harta, tahta, dan wanita
Kuasai jasad rasa
Penuhi hasrat mata
Buka pintu kebencian pada kemelaratan
Tegak tertampar angin, kokoh disandari badai
Berdiri, tak melambai
Lahirkan akal kebinatangan
Menguntai kedukaan
Bangunkan pilar-pilar pujian
Topang kaki pintu dan daun telinga
Berlarian, berteguran
Lupakan yang tertekan
Kelaparan
Sisakan reruntuhan
Hukuman dan peringatan


3 April 2005
Auditorium

DUNIA CINTAI MIMPI DUNIA BERMIMPI CINTA

Banyak cinta terluka
Terlalu cinta banyak binasa
Banyak cinta binasa
Terlalu binasa
Terluka
Banyak cinta menjauh
Terlalu cinta menjauh
Menjauhi cinta
Cinta berlabuh
Cinta menjauh
Hidup tanpa cinta
Cinta hampa
Hidup hampa
Hampa cinta
Dunia cinta
Dunia mimpi
Dunia bermimpi cinta
Bercinta
Bermimpi
Dunia cintai mimpi
Mimpi bercinta
Dunia pemimpi
Dunia pecinta
Pemimpi suka cinta
Suka cita
Pecinta suka mimpi
Suka mimpikan cinta
Suka bercinta
Bermimpi bercinta
Bercinta dengan dunia
Dunia pun bermimpi
Bermimpi akan cinta


15 Januari 2010
Pecinta Dunia Bermimpi bercita-cita bercinta

KEMBANG NERAKA

Berderet barisan kepingan awan
Penguasa cahaya merangkak malu-malu
Membakar kepala
Bualan pinta terlontar menghujam
Menjerit ditangis pagi
Perut mengaum menanggung getir
Merambah petak belikat yang mulai keropos
Pendar tawa pinggiran ranjang
Tautkan kabar pada penguasa malam
Menguras keringat dan air mata
Menguras sumur waktu yang makin menganga
Kerontang…
Mengais setetes demi setetes
Menganak sungai di sela rembulan
Tertuang ribuan lafal
Menadah dalam cawan-cawan harap
Tersusun mentari disebelah hati
Menyusuri separuh dongengan bumi
Menginjak jengah tubuh fana
Dengan belaian keras lisan memaksa
Genggam dunia diikat kepala
Melewati wangi tiupan kencang kelopak
Tak Ingin tersisa
Tak ingin ada
Kepingan hidup terus memaksa bercinta
Mengecup kebuasan kembang serupa
Menjamah duri keabadian
Merancu segala pinta membawahi lupa
Menampik kebenaran tak henti bercita-cita
Memendam diri dari kepedihan tubuh fana
Mengkilat dan menjilat
Tak pernah paksa dunia menggenggam dusta
Hanya memberi cerita tiada henti
Kengerian, dan kebahagiaan meleleh berguguran
Terlempar melayang silih berganti
Memberi kebusukan dan wewangian
Merampas sekuntum kehidupan


15 Januari 2010
Home

SENYUM

Deru angin mendingin
Degup langkah terengah
Menengadah pada bunga jengah
Tersenyum simpu, lugu
Dalam termangu

Manis tersemburat tampak merekah
Merajai dunia dalam sehari
Meriasi putih awan ragawi
Pada merah padam yang ternodai
Bibirmu palsu
Merahmu palsu
Ciumanmu palsu
Manismu palsu
Hatimu lebih palsu
Kulitmu palsu
Putihmu palsu
Rabaanmu palsu
Sentuhanmu palsu
Hatimu lebih palsu

Apa yang kau reguk pagi itu
Hingga semua milikmu hanya sebongkah batu bisu
Bagaimana kau selimuti kepalsuanmu, padahal dulu Kau …
Berkata kepadaku ;
Aku sayang kamu
Yang ku rindu hanyakamu
Aku mencintaimu
Di hatiku hanya kamu
Aakh …
Bukankah yang berkata itu bibir palsumu
Yang kau poles dengan gincu merah dusta semu
Sambil kau ciumi kata manismu
Kau balut janji putih palsu
Agar bisa kau raba hati indahku
Tuk sekedar cicipi sentuhan kasihku
Aakh …
Hatimu memang palsu
Kerinduan menyongsong
Senyum kosong
Bohong !!!


17 Juli 2005
Kecewa

PERI BIRU

Peri biru membelah langit pagi,
Membungkukkan pelangi,
Menemui bumi,
Mewangi.
Temaram warna lampu menemani,
Menusuk kebisuan malam ini,
Menjaga segenggam hati,
Menyelimuti diri.
Diam kaku,
Kedamaian hatimu,
Menggangu raga semuku,
Menamatkan petualangan kasihku,
Menjelajahi alam maya keraguan sembilu,
Ciptakan rasa rindu mengharu biru,
Percikkan cinta yang terpaku,
Tersenyum mendayu-dayu,
Melambungkan kalbu,
Dalam kata terikat,
Kehadiranmu tersirat,
Lahirkan wangi menyemburat,
Mengurai janji,
Menjajakan asa yang kau ciumi,
Tawarkan dahaga denga air surgawi,
Untukku kau rela kembali menari,
Hiasi hari sebagai seorang peri.


1 Juni 2005
Miss U

SBY MANTU

Jalanan ditutup seharian
aspal paris van java dihadiahi hujan
Lengang menanti kedatangan kereta kencana putri dan pangeran
Putri nan cantik lahir dari keraton infotainment raya
Diboyong pangerang tampan penghuni istana

Tuan raja nan agung menabur mendung
Ditengah guyuran sanjung
Semua jalan telah dibendung
Tak ada ijin bagi rakyat untuk berkerubung
Hanya mampu melirik istana dari balik kerudung

Rakyat jelata tak mampu beredar
Tuk penuhi hasrat ingin sekedar berpendar
Hanya ikut sunggingkan bahagia
Korbankan jatah makan mereka
Sembunyikan rapi segala duka
Duka atas matinya rejeki mereka
Demi ada hajat di istana

Berbagai resah jelata
Tak digubris tuan raja
Malah disambut tarian badut-badut istana
Meramaikan layar kaca dalam suguhan berita
Kini istana kembali pada fungsinya
Jadi tempat pesta para pembesar dan penguasa


10 Juli 2005
Kemeriahan pesta anak penguasa negeri

BULAN MADU DI ASPAL JAKARTA

Mata elit tercengang
Menaruh bola dunia pijakkannya ditendang
Kursi kekuasaan kusut dan menyusut
Ditantang ribuan generasi baru sembilan delapan
Mengguncang megahnya istana kepresidenan
Meruntuhkan rezim pengklaim kekuasaan
Mengiklankan suburnya perekonomian
Dilempar legitimasi batuan
Radikalisasi kampus menjalar, membakar
Menjelajahi jalur diluar dugaan
Mengejutkan memang
Namun itulah kenyataan
Sebuah catatan sejarah reformasi
Atas penghianatan dan pendudukan NKRI
Tumbalkan beberapa badan anak negeri
Anak Tiri TRI SAKTI dan anak Semanggi
Terkapar membela reformasi
Diterjang timah panas hadiah petugas
Mereka berteriak lantang
Menantang
“Kami adalah manusia berperikemanusiaan, bukan seperti kalian manusia gadungan!!
Para pasukan berseragam yang anggap kami layaknya binatang”
“Kalian tawari kami pentungan, Kami kalian tendang ditengah lapangan rakyat yang kelaparan”
“Bahkan kalian todong kami dengan senapan yang kalian beli dari keringat dan cucuran orang tua kami yang rela berjuang”
“Mengolah bumi pertiwi mati-matian hanya untuk diserahkan sebagai setoran bulanan kepada kalian dan kembali pada mereka dalam bungkusan kain kafan”
“Kami siap menjadi angin kencang menerjang barisan penghadang”

Kelaliman ditumbangkan
Membela kemanusiaan
Membuang warna-warni defile keemasan
Dari tiap-tiap almamater kebanggaan
Menyatukan barisan dalam pasukan perubahan penegak konstitusi
Menegakkan supremasi keadilan ibu pertiwi
Aspirasi rakyat telah digaungkan dan digantungkan dipundak kalian
Generasi Sembilan Delapan
Masa depan negeri ini berada dalam genggaman tangan kalian
Wahai para pejuang jalanan


21 Mei 2005
Merefleksi Reformasi

DUNIA BONEKA

Mendustai kata jadi kebiasaan hidupmu
Menggandeng luka pada hati siapa saja
Membungkuskan naskah indah penuh nanah
Mengecewakan bagian pekerjaan gilamu
Menuntun nyanyian jiwa bernada air mata
Menumpukan cerita drama berlabel cinta
Apa itu sejatinya cinta?
Ada apa dengan cinta?

Pengingkaran janji
Bersetting kasih sayang abadi
Bersumber naskah karya ego pribadi
Apa itu janji?
Ada apa dengan janji?

Teater boneka dipanggung ketulusan
Sinema fotokopi yang menyedihkan
Melompat, berlari, berguling, menggelinding, melenting,
Kemudian membanting
Apa itu ketulusan?
Ada apa dengan ketulusan?

Sepanjang jalan pulang
Telah tercetak jejak melayang
Penuh saduran dialog romantis
Ciptaan nostalgia yang manis
Dalam hati yang terkikis
Menangis
Teriris


2 Mei 2005
After Duhur, UPS Library

TANAH BECEK

Masih mampukah kakimu
Menopang sajak penglipur
Memberi jejak di atas tanah berlumpur
Mendendangkan lagu merdu
Ditutupi kain perdu

Masih mampukan tanganmu
Menunda puisi talibun
Mengepakkan jemari di atas air tambun
Mengemas syair nyayian sendu
Dibingkai selendang biru

Mampukan kita
Membangunkan mayat-mayat saudara
Tanpa linangan air mata

Mampukah kita
Menyurutkan duka
Mengentaskan trauma
Merindangkan nestapa
Dari beceknya tanahku

Sanggupkan kita
Meluluhkan kepedihan
Meninggalkan raut kehilangan
Merelakan kematian
Dari beceknya tanahku

Sanggupkah kita
Terhempas bebas mengarungi separuh bumi
Memenuhi mimpi abadi
Mengikuti panggilan ilahi


31 Desember 2005
Liputan pasca tsunami

PAHLAWAN-PAHLAWAN KARBITAN

Tertimbun dibawah cakar-cakar kaki langit
Tergolek bersandingkan batu mahkota
Menjala birunya permata
Melewatkan tangisan klasik

Manusia pinggiran ibu kota
Tertindih beban dunia
Meretas senyum dari tubuh mungilnya
Coba pamer kedigdayaan si pembajak sawah
Menantang otot pabrik dengan cangkul dan kerbaunya
Di atas segel-segel ijasah rendah
Ingin membatukan hasil karya pahatan mesin
Mengendus sampah produksi
Menghisap cerobong-cerobong asap
Demi menambah pundi-pundi ekonomi

Demi kesetiaan akan perubahan jaman
Menggadaikan padi yang masih hijau setengah ranum
Menyerahkan mudanya dalam perkosaan peluh dan penindasan
Leher panjang menahan lapar dahaga
Melongok tuntutan atas dirajamnya kekayaan
Tubuh mungil yang mencoba membobol angkuhnya benteng ibu kota
Yang terus melebarkan sayap penghancuran
Mencatat raut muda dalam sejarah pembukuan
Agenda-agenda generasi penerus bangsa dan penghasil devisa
Berjuang demi cita-cita orang kaya
Keangkuhan klasik anak manusia
Pahlawan karbitan
Pahlawan pabrikan

9 Maret 2005
Melepas sahabat ke Ibu Kota

INDONESIA DIRAMPOK

Negeri ini sudah teracak-acak
Hingga telah rusak
Manusia negeri ini sudah tak peduli
Mereka hanya senang memperkaya diri sendiri
Mengikhlaskan tanah-tanah negeri
Untuk diklaim mulut birokrasi luar negeri
Menyetorkan kekayaan bangsa
Untuk ditukarkan dengan setumpuk uang plastik
Tak peduli berisi harta siapa
Mereka hanya tahu tarian bahagia
Menari menghiasi dompet
Berbaris rapi menunggu giliran digesek
Manusia pembangunan hanya besar disuara
Berkoar menegakkan supremasi hukum Indonesia
Mitos lama melahirkan galeri manusia kaya
Memajang harta, keangkuhan, kekikiran, kekuasaan, moral bejad,
Dan entah apalagi namanya
Bangganya menyandang status konglomerat
Mengangkat dagu membusungkan dada
Tapi mengenakan sandal milik orang melarat
Mereka bangganya menjadi perampok, penyamun, dan pemerkosa ibu pertiwi
Yang telah tua renta ini
Kedurhakaan mereka mendapat penghargaan
Menempati posisi tertinggi di jajaran kabinet setan
Dan kemudian jasad-jasad mereka akan dibatukan layaknya Malin Kundang
Untuk menjadi penghias jahanam


5 Maret 2005
Laskar DPR Jalanan

HILANGNYA GENERASI

Tanah diujung Sabang
Telah Kehilangan riuhnya, siang itu
Dalam kebrutalan sebuah riak raya
Merampas kemerdekaan ribuan manusia
Bergegas melahirkan revolusi alam
Tak ada perang dalam dentuman meriam
Tak terdengar pula bunyi rentetan senapan
Meletup diantara seragam kebesaran
Hanya gemuruh menggulung dan menggunung
Senjata asli buatan tangan agung
Sampah manusia mengisi tanah gersang
Berbaur dalam kelam
Ribuan istri tercecer dari tangan suami
Ribuan suami terserak melewati sebagian negeri
Anak-anak terdampar di rumah tetangga desa
Tenggelam menemani harta dunia
Sisakan isak tangis dan nestapa
Sirnakan separuh generasi
Dalam permainan pengurangan populasi
Tuk jernihkan kembali wajah bumi


26 Desember 2005
Tsunami NAD

SURAT AIR LANGIT

Menyetubuhi samudera membirukan langit
Menaiki udara yang bergelantungan
Terseret angin
Terinjak surya
Menghadap raja angkasa
Diselimuti mendung gelap
Hitam legam
Terjun bebas satu demi satu
Melewati sulur putih tanpa jejak hitam di beranda
Merobek kelam alam raya anak adam hawa
Sambil memeluk wangi bunga
Dari taman kumal
Membasuh raut pertiwi yang lusuh
Menidurkan capung dibalik pipi lontar
Membius tarian kupu-kupu yang terselip diujung bambu
Menceritakan kisahnya
Menyusuri bibir muara
Tuk kembali temukan pelukan ombak
Menghangatkan sapa penghuni lautan
Dan kembali kepangkuan awan-gemawan


14 April 2005
In The Rain, Last week…

APRIL

Kenapa harus April??
Kemana perginya April??
Dimana sekarang April??
Kenapa sekarang harus April??
Padahal kemarin sudah April!!
Darimana datangnya April??
Untuk siapa April??
Kenapa harus April??
Padahal kemarin barulah April!!
Aku bingung dengan April,
Aku pusing karena April,
Aku terlena karena April,
Aku kecewa karena April,
Aku gila karena April,
Aku bahagia karena April,
Aku sedih karena April,
Aku terbahak dengan April,
Aku kagum dengan April,
Aku sembuh berkat April,
Aku sakit karena April,
Aku bermimpi bersama April,
Aku terjaga karena April,
Kenapa harus selalu April??
Bagaimana bisa selalu April??
Padahal kemarin baru April!!
Mengapa bertemu dengan April??
Padahal kemarin baru April!!
Kenapa harus April??
Karena Aku cinta dengan April!!!!

26 April 2004
Sayonara promise

MEGA MENDUNG

Beriringan
Berarakan
Menggantung di udara
Di angkasa raksasa
Jendela alam semesta
Dominasi putih raya
Menggantung di udara
Bersusulan
Berkejaran
Sambung berangkulan
Menganyam gumpalan
Menciumi kaki pertiwi
Menangisi
Menghiasi
Rapat mendekat
Rapat merapat
Tergeletak dan berserak
Menghiasi celah
Cekak-cekak
Tua
Keriput
Hampir terlelap
Menabur senyum
Menciumi
Membaui
Mendaki
Menggantung di udara
Beralih kelam hitam
Tinggi
Bermimpi
Terbang melayang
Terbakar sinar rata
Tergantung di udara
Tergantung di cakrawala


30 April 2005
GOR Wisanggeni

SIKLUS KOMODITI

Telah menjadi keturunan inflasi
Bila tiba-tiba duit baru itu menjadi debu ditengah krisis ekonomi
Tak lagi mampu membungkus cabe rawit dan seledri
Yang makin menggigit pedas dompet anak negeri
Tak sanggup lagi mengikat bawang merah yang merangkak
Mendekati klimaks
Duit baru keluaran birokrasi
Hanya mampu membeli terasi dan peniti
Tak melihat ibu rela mati mengantri
Demi se-liter minyak tanah yang tak lagi disubsidi
Menawar harga yang tak lagi bisa dikompromi
Tingi dan semakin tinggi
Duit baru edisi cetakan masa kini
Memiliki rasa humor yang tinggi
Menggelitik perut tiap anak negeri
Lebih tenar dari bintang AFI yang tampil di televisi
Rasa manis tebu giling dan gula jawa
Tak lagi mampu dijilat tiap keluarga
Hanya untuk orang berada dan para pengusaha
Beras impor bertumpuk di gudang
Tanpa ada distribusi bagi rakyat yang malang
Petani memilih beralih memakai pupuk kandang
Oh…inflasi
Engkau datang saat lagi resesi
Jaman ini telah menelan mimpi-mimpi
Mengorbankan nyawa penduduk negeri
Yang tak mampu membeli sebungkus nasi


14 Maret 2005
Metro Pagi, di atas puncak guci

SELAMAT PAGI BIANGLALA

Dingin mencakar kabut pagi
Mencabik untaian buih putih dipuncak dahan
Meraba udara disela nafas mereda
Menyegarkan mata kala sinar keemasan menyapa
Ufuk timur yang berkaca-kaca

Merenda araka-arakan awan
Menyeret selendang warna-warni diantara pecahan air langit yang tertinggal
Diterawang jaring laba-laba angkasa
Menjaring sketsa merah, jingga, kuning, hijau, biru, ungu,
Juga nila
Menguntit sang bayu membelah nirwana
Ruang bebas tanpa batas
Memanjat tangga kerajaan cakrawala
Dalam disain simfoni sempurna

Elegi pagi yang mencerahkan hari
Membuka senyum menghampar hati
Menunggu bidadari menuruni bumi
Mengantar ke tengah sendang tempat mereka biasa mandi
Melengkung panjang menuruni punggung merapi
Sembari mendendangkan nyayian selamat pagi


23 Maret 2005
Jalan-jalan pagi di PAI

TERSAKITI MIMPI

Ketika bulan bercakap dengan bidadari
Hatiku tertanam dalam samudera imaji sunyi
Mencoba menelanjangi jiwa
Melepaskan balutan raga
Mengecap lezatnya jelaga
Berkelana…

Kekuasan mahkota malam berdiri diseberang jalan
Separuh nyawaku tertanam ditepian
Menyapa kegelisahan
Mengusap peluh ketakutan
Mendendangkan simfoni pagi
Dalam balutan elegy esok hari

Ribuan rangkaian bunga duka cita
Menghiasi pelataran asa
Terpampang di depan mata
Sukma mencubit bibir tua
Mengajak jiwa tuk kembali tertawa
Tinggalkan kelelahan raga yang terbius sisa cerita surga

Raga menolak berbicara
Hanya mampu menganga
Gelap menolak memberikan cahaya
Malah ajukan panas neraka

Inginku kembalikan dunia nyata
Tuk warnai hari-hari bahagia
Sadarkan asa yang terkoyak luka
Agar duniaku kembali berwarna


8 Maret 2006
The Buthek Day

HIMNE MANUSIA

Manusia terlalu perasa
Mudah terguncang hatinya
Manusia terlalu perkasa
Mudah menguncang dunia
Manusia perkasa pula mudah diguncang dunia
Karena hatinya

Manusia membanting pikirannya
Demi perjuangkan selera
Gapai caci-maki dunia
Mengentaskan celanya
Daki bukit kemelaratan
Arungi padang kesengsaraan
Suburkan racun dalam fikir
Membuat suaranya menjadi sihir
Menabur jampi-jampi melalui mata
Tawarkan mimpi dalam cinta
Memoles raga dengan azimat
Melambungkan sekarat terbungkus hasrat

Jiwa manusia layaknya bejana kaca
Menerawang cita dan segala asa
Menerbangkan berjuta-juta wangi surga
Mengusir gelisah
Menyisihkan resah yang membuncah

Manusia perkasa dan manusia lemah
Kerap bertandang di dunia yang tak pernah lelah




11 Maret 2005
Nyasar di dunia antah brantah…

SIAPA AKU ???

Kebiasaanku tak terhitung
Karena aku pun tak pernah menghitung
Dan tak perlu menghitung
Meski kadang terasa kaku
Terasa semuanya itu melulu

Tapi disitulah unikku
Dimanapun, dan kemanapun aku
Menjejalkan sampah kakiku
Tergores cerita yang tak lucu
Bahkan selalu mengharu biru

“Ah itu palsu…”
Kata temanku
“Itu melulu cerita lu, basi tau…”

Itu hanya sedikit wujudku sebagai manusia
Karena memang tuntutan kewajaran belaka
Biar dibilang patuh mengikuti jalan cerita Sang Maha Kuasa

“Lagi-lagi dongeng masa lalu…”
Itu-itu melulu kata temanku
“Semua orang mengenali itu…”

Aku bukan dimunculkan jadi manusia sembarangan
Apalagi serampangan
Bahkan buangan atau asal menciptakan

Tapi kisahku bukan itu melulu
Ada torehan indah menawan
Berhias arak-arakan
Ditaburi bunga milik bangsawan
Melewati jalan penuh sanjungan

“Ah itu juga palsu…”
Kata temanku
“Masih Itu juga cerita lu, basi tau…”
“Lagi-lagi dongeng masa lalu…”
Itu-itu melulu kata temanku
“Semua orang mengenali itu…”

“Heh..Awas Tuhanmu Maha Mendengarkan omongan”
Begitu kata seorang teman
“Uups…”
Jadi siapa aku sekarang???

31 Maret 2005
Dari SMS Yang Bikin Kecut Kening…

BELAJAR

Aku masih belajar
Belajar merambat
Merambat kehendak
Kehendak asa
Belajar Menjalar
Menjalari nalar
Nalar nakal
Merintih
Perih
Sakit
Menjerit…
Luka
Duka
Nestapa
Dunia

Aku belajar bukan karena larangan dan paksaan agama
Aku belajar bukan karena ingin masuk surga
Aku belajar bukan karena hormat manusia

Tersenyum
Gembira
Bahagia
Tawa
Canda
Membahana..
Dunia


Aku masih belajar
Belajar merampok keinginan
Belajar menguras kekuatan

Aku masih belajar
Belajar mengenal sulit
Untuk mengejar tegar dan sabar
Aku masih belajar
Belajar buta
Untuk meraba dunia
Aku masih belajar
Mau ini dan itu
Ingin ini dan itu
Aku masih belajar
Belajar meniru guru
Aku masih belajar
Belajar menggagahi dunia yang kasar

9 Mei 2005
Dari Aku, oleh engkau, untuk mereka…

BAPAK

Temaramnya hari terlewatkan sudah,
Setengah sadar
Terpekur di sisi tembok nasib diri,
Meratap-ratap
Mengais-ngais
Iga kropos menempel di selembar kulit
Keriput membalut kencang rupa tua
Mata samar selalu menantang matahari
Mengarang tenaga besar
Menopang segulung kenangan di pelupuk

Coba nyalakan bara merah,
Redup,
Meletup
Menyalak-nyalak…
Sepotong
Sepotong
Sudahi kisah fana…
Meregang
Nyawa

Bermain diujung padamnya petang,
Senja menyapa
Engkau pun diam sudah…

Dan tersenyum menghirup nafas baru
Di timur matahari
Kembali menanti



7 Mei 2005
Off Life ****

JURANG ASA

Bersama Lagu Sengal Napas
Tersulur Jangkar
Menggelayut Di Tengah Jaga
Menggangu Perih Air Mata
Terdalam
Menetes Dalam Kalbu
Sebulir Mimpi

Menggugah Asa
Terbang Melayang
Lemah Menemani Badani
Terjaga Dan Tertidur
Di Tengah Perkosaan Gulita

Mengepal Tangan
Melumerkan Angan DiSepanjang Laga
Mengerutkan Dahi Tua
Jeritan Garis Halus Usia
Mengerang…
Mengejang…
Gurat Kelelahan Tak Tertahan

Raga Bertamasya Melawan Asa
Menyumbat Angin Dari Dalam Gua
Meranggas Nyata Dalam Selimut Jelaga
Hidupi Sepetak Semunya Jiwa
Dalam Dunia Yang Tak Lagi Maya

Sepanjang Napas
Sepanjang Lelap
Sepanjang Rasa
Datang Dari Kemaraunya Raga
Memetik Bunga Tidur Yang Terselip Di Tebing Bintang Berkelip


21 Juli 2005
Kost

Rabu, 13 Januari 2010

MEMBENAM HATI



Mendiang Hati Yang Menjadi Zombie Bermetamorfosa
Jadi Bidadari...
Terkekeh Menyulut Hening
Dalam Riuhnya Tabuh-tabuhan Gending

Menyeret Lara Ke Balik Selendang Tawa
Menghiasi Wajah Bermodal Bedak Dan Gincu
Mendayu Biru Bersama Laku Palsu
Terdiam Membisu
Kaku...

MATI SAJA TAK MAU MATI





Menjelang Angin Merenda Kata Tak Bersambut
Tak Banyak Tinggalkan Sedikit Hormat
Sedangkan Kemelut
Terus Berlanjut
Namun..
Segumpal Getir Tertelan Dikerak Hati
Menggelepar Di Sekujur Jasad Yang Tersisa
Mati..


Menyakitkan Telinga
Menusuk Raga

Mati..
DiTengah Sulur Gerimis Berapi

Semua Tak Pernah Ada Yang Sama
Mengganti Keindahan Setiap Pemberian
Mencicip Sekelumit Kisah

Sekarat Merayu
Mati..
Meriasi Duniawi

Tak Henti Mengajak Berdansa
Menuangkan Secangkir Imaji
Keji..
Penuh Benci..
Mati..
Datang Lagi

Tak Lagi Menuai Pagi
Tak Lagi Menuai Suci

Tak Mampu Atau Tak Mau?
Mati..
Merasuki Jiwa Insani

Sisakan Rapuh Meninggalkan Sedu Sedan
Getir Tak Tertahan
Syahdu Terus Berjalan

Menyayat Hidup
Berselimut Kabut
Mati..
Tersenyum Bertubi-tubi

Aakh...
Aku Belum Mati
Akan Terus Mampu Berdiri
Tuk Kembali Berlari..
Menyusuri Jejak Mimpi
Mengelak Tuk Berhenti Dalam Selimut Sepi

Aakh..
Aku Tak Mati..
Cintamu Saja Yang Mati
Bukan Cintaku..
Sayangmu Saja Yang Mati
Bukan Sayangku..
Hatimu Saja Yang Mati
Tak Perlu Hatiku..
Jasadmu Saja Ikut-ikutan Seperti Mati
Tak Perlu Jasadku Pura-pura Mati..
Dan Tak Akan Pernah Mati Sampai Aku Benar-benar Mati
Sampai Kau Pun Turut Mati