Lelahku Adalah Lelahmu Jua
Kantukmu Adalah Kantukku Jua
Namun Resahku Jangan Kau Jadikan Resahmu
Rasaku Adalah Rasamu Jua
Ceritamu Adalah Ceritaku Jua
Namun Penatku Jangan Kau Jadikan Penatmu
Hadirmu Adalah Peluntur Rinduku
Keberadaanku Jadikan Penopang Semangatmu
Namun Tak Perlu Kau Ragukan Cintaku
Tak Guna Ku Jika Tempatmu Tak Di Sisiku
Di Hatiku
Tempatku Melihat Adalah Matamu
Tempatku Mendengar Adalah Telingamu
Tempatku Bicara Adalah Bibirmu
Tempatku Merasa Adalah Hatimu
Tempatku Berpikir Adalah Akalmu
Namun....
Jadikanlah Mataku Menjadi Cakrawala Buatmu
Jadikanlah Telingaku Menjadi Jendela Buatmu
Jadikanlah Bibirku Menjadi Lautan Buatmu
Jadikanlah Akalku Menjadi Dunia Buatmu
Bersamamu, Aku Mampu
Bersamaku, Kau Menuju
Saat Kaki Kecilmu Mulai Menua
Terbelahlah Seisi Dunia, Saat Itu Aku Mengalun Dalam Fana
Sembari Menciumi Wangimu Yang Kini Mencemari
Menjalar, Menggerayap, Mendiami Hati
Kala itu Aku Pun Menyanyi Bersama Sepi
Saat Tangan Mungilmu Mulai Kisut
Bumi Pun Mulai Menyusut, dan Saat Itu Aku Pun Tak Mampu Beringsut
Meski Hanya Sejumput
Tinggalkan Jejak Dalam Hempasan Hijaunya Rerumput
Kala Rona Merah Pipimu Diiringi Keriput
Terbujur Kaku Gincu dan Baju Dalam Lemari Kayu
Mendongak Diam Tanpa Ragu
Menyapa Langit-langit Malam Beranyam Sembilu
Kala Gerai Mahkotamu Telah Berhias Benang Sutra Ungu
Tersisa Linu Dalam Tulangmu Yang Terbungkus Cerita-cerita Lalu
Coba Memberikan Selimut Pada Anak dan Cucu-cucu
Berbalut Doa dan Mantra Warisan Para Pendahulu
Bayangan Itu Kini Menggerayangi
Mengisi Hati dan Alam Fana Dalam Debur Mimpi
Mimpi Yang Tampak Nyata Oleh Mata
Bayangan Nan Terpampang Indah Dalam Cerita Buaian Bunda
Menua, Kisut dan Keriput
Menanamkan Sutra Pada Mahkota, Berdendang Dalam Doa
Mengharap Ini Menjadi Fatamorgana
Berlalu Tanpa Makna